ketika aku tak bisa dimengerti,
saat sendiri…sepi dan sunyi tak bisa dihindari
ketika kekecewaan merajai hati
saat perhatian tak kunjung datang
dan harapan yang tak tercapai…
ketika itu aku MENULIS
Aku menulis untuk menumpahkan segala perasaan yang tidak mampu kuucapkan, menulis memerdekakan aku dari belenggu pikiranku, tapi…kadang-kadang aku tidak jujur dalam menulis. Awalnya, mungkin hampir sama dengan sebagian besar orang, aku menulis diari atau buku harian yang aku kenal saat aku di semarang, biasa… pas saat pubertas, saat aku menyukai seseorang aku menuliskannya di diari, tapi tulisanku itu tidak akan bertahan lama karena setelah itu aku pasti merobeknya atau dijadikan abu setelah melalui proses pembakaran. Mulai menghasilkan puisi saat kelas I SMA, ketika banyak hal-hal yang aku tidak setuju, ketika ingin berontak dengan sikap orang tua, ketika ada rasa marah yang membuncah dan tak bisa diredam hanya dengan menangis, dan ketika rasa cinta mulai tumbuh dan tak tersalurkan. Tak bisa kupungkiri… rasa bahagia juga menghasilkan tulisan yang menurutku dapat membangkitkan motivasi. Kesedihanku menghasilkan lebih banyak karya, tapi saat membacanya mengapa aku sedih? Mungkin kasian dengan diriku sendiri. Kesedihanlah yang mendominasi tulisanku…dulu…!
Puncak kesenanganku saat menulis yaitu pada saat-saat SMA, mungkin karena sedang berada dalam perkembangan psikologis yang naik turun. Selalu dan selalu aku ingin memulai untuk menulis sebuah cerpen yang berceritakan tentang pengalaman pribadiku, tapi aku hanya mampu untuk memulai dan tak mampu untuk mengakhiri. Kemudian banting setir lagi dalam tulisan-tulisan yang aku sebut dengan puisi (mungkin kalo berdasarkan ukuran tata bahasa…belum bisa dikatakan sebuah puisi?) puisi-puisiku kebanyakan berceritakan tentang perasaan-perasaanku yang tak pernah tersampaikan…harapanku…renungan malamku…perasaan terabaikan saat teman-teman sibuk dengan urusan mereka sendiri…bahkan aku juga menuliskan renungan klosetku.
Tulisanku hanya untuk konsumsi pribadiku, apalagi saat itu aku adalah orang yang lumayan tertutup untuk membicarakan masalah perasaan…aku masih trauma mengingat teman yang paling kupercayai tega untuk membocorkan rahasia yang selama ini kusimpan. Aku tak mampu berbicara untuk mengungkapkan kekesalanku…aku hanya bisa menulis, karena aku yakin dengan menulis maka tidak akan ada orang yang merasa terluka dengan apa yang kurasakan. Aku paling tidak suka jika tulisanku terbaca sebelum aku mengizinkan…mungkin karena aku kurang percaya diri dengan apa yang aku buat, dan takut orang lain akan mengetahui apa maksud tulisanku.
Orang tua menjadi orang pertama yang menjadi inspirasi menulisku, saat aku terkesan tak diperdulikan…tidak dimengerti…dibanding-bandingkan…diremehkan…tak dizinkan ke suatu tempat…dan ketika ada keinginan yang tak terkabulkan.
Yang kedua…buat seseorang yang pernah ada di hati “Mr. Smile”, inspirasi yang tak pernah habis… aku telah menjadikan dia sebagai tempat segala keluh kesah…tempat berbagi suka…berbagi harapan…mengadu…merajuk…menjadikan tameng hati ketika ada orang asing yang ingin mengisi hati. jujur…aku baru sadar kalo selama ini aku hanya terobsesi, pura-pura cinta, agar teman-teman tahu bahwa aku juga punya cinta. Dia bukan pacar ataupun kekasih, dia ada di kehidupan nyata…tapi tanpa sengaja aku membawanya ke alam khayal dan dengan itu aku bebas untuk memiliki tanpa ada rasa bersalah pada Tuhan. Aku yang sengaja menumbuhkan rasa, agar aku bisa menulis dan menjadikan dia sebagai inspirasi utama. Tapi Tuhan mengetahui kekeliruanku…Dia membuat aku lupa pada Mr.Smile, Dia memberitahu aku melalui tangan-tangan hambanya bahwa ada yang lebih pantas untuk dijadikan sumber inspirasi…dialah Allah SWT.
Cinta…itulah yang menggerakkan setiap manusia untuk menulis, mungkin itu cinta pada lawan jenis yang tentu saja tidak boleh disampaikan selama belum ada ikatan perkawinan…cinta pada orang tua, yang mungkin malu untuk disampaikan melalui kata-kata maka menulis adalah jawabannya…dan yang paling suci adalah cinta kita pada Allah SWT yang harus disampaikan dengan segala rasa syukur lewat lisan..tulisan perlakuan dan doa. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita menulis sesuatu untuk Tuhan, rasa yang tidak akan pernah mati, indah dan ada rasa syukur saat membacanya.
Aku suka menulis…aku punya diari, biasa juga curhat dengan tulisan di komputer. Diary kadang kujadikan sebagai tempat curhatku tentang kegiatan sehari-hari…kadang2 kalo lagi jengkel, sedih…wah diari bisa langsung penuh…he…he…? menulis di computer juga lebih asyik, ada banyak folder yang bisa menampung tulisanku, ada folder untuk curhatku dengan Allah, folder untuk cerpen yang kunamai ‘cermin’ untuk menampung ideku (banyak cerpen yang belum selesai…?), dan ada folder ‘mereka…! Khusus untuk orang-orang spesial di hati ha…ha…ha…!
Sekarang ini aku lagi suka menulis cerpen, biasa penulis pemula…sensitif sama ide-ide cemerlang yang bisa di dapat dari cerita teman-teman ataupun dari kejadian sehari-hari yang mungkin menurut orang lain ‘biasa sekali ji’. Kini, aku lebih berani menunjukkan ke teman-teman kalo aku suka menulis…setiap cerpenku kuperlihatkan ke teman dan mereka akan mengomentari ataupun memberi masukan yang positif tentang tema dan jalan ceritanya. Menulis cerpen membuat kita merasa seperti tuhan yang bebas menentukan nasib tokoh-tokohnya, tapi ya…sebagai penulis pemula aku masih belum sanggup untuk membuat tokoh dalam cerpen itu meninggal, kasian…tidak tega…pokoknya cerpen2ku yang sekarang selalu happy ending.
.
Apa di ? Kalau bicara suka duka, mungkin lebih banyak sukanya…he….:-) Jadi penulis pemula itu bisa meningkatkan rasa percaya diri (maksudnya?), ya…hal ini bisa dilihat dari semangat dan motivasi kita untuk menghasilkan karya yang terbaik sehingga nantinya kita akan merasa percaya diri untuk memperlihatkan tulisan pada teman ataupun orang lain. Aku merasa setelah menulis cerpen ada kepuasan tersendiri…apalagi jika dapat menyelesaikannya dalam waktu cepat, sampai-sampai ada teman yang curhat tentang kisahnya dan meminta untuk dibuatkan cerpen…seruuu kan! Sebagai seorang penulis pemula…wah kita akan merasa tertantang nih. Responnya macam-macam, ada yang tidak setuju dengan endingnya, dan ada pula yang hanya tersenyum melihat endingnya sesuai dengan keinginannya. Nda tau kenapa saya masih sulit untuk menceritakan kisah sedih yang berakhir dengan kematian atau kesengsaraan, pasti dech akhir-akhirnya bahagia…mungkin saja itulah yang menjadi ciri dari setiap penulis, ada yang suka humor…kisah sedih…masa lalu…ataupun cerita yang penuh dengan motivasi dan ajakan untuk berprestasi.
Dukanya….mungkin karena baru belajar menulis, jadi kita kayak sok pintar menulis, sok peka…sok puitis…segala-galanya mau disalurkan lewat menulis. Kadang sich ada teman yang sinis, bilang kalau penulis pemula itu karyanya jelek…ufh…pedis sekali rasanya. Atau bahkan ada teman yang setelah membaca cerpenku, NO Ekspresi/NO Comment…yach yang lebih parah sich tersenyum sinis. Tapi, bukan penulis pemula namanya kala nda punya muka tembok alias harus tahan malu….:-/.
Tau nggak sich…menulis itu bisa dijadikan sarana ‘katarsis’ (itu lho…istilah psikologi yang artinya pengungkapan emosi pada sesuatu di luar dari sumber emosi, misalnya ketika kita marah sama seseorang…kalo mau katarsis lewat cerpen, ya bikin aja cerpen tentang dia dan ceritanya dia dalam cerpen akan menderita atau dia menjadi tokoh figuran dan kitalah tokoh utamanya, sehingga kita akan melepaskan atau mengungkapkan emosi yang terpendam. Masih belum mengerti? Gini nich…misalnya ketika kita lagi stress sama tugas kuliah, mau katarsis ya tinggalkan dulu tugas sejenak dan pergilah ke pantai untuk berteriak…Aaaaaa……..melepaskan semua beban. Dah ngerti kan!). Kalo aku lagi sedih…biasanya akan nulis puisi atau cerpen (walaupun tidak langsung selesai he…, yang penting sudah tersalurkan).
Menulis otomatis akan memperkaya kosakata kita, ya…jelas dong! Masa kita mau nulis puisi, kata-katanya itu terus, kan nda seruuu. Pokoknya menulis bermanfaat dech! Menulis sangat cocok buat orang-orang yang pendiam…susah untuk berbicara…emosinya terkendali, orang yang pendiam tidak akan berani berbicara lewat lisan…tapi harus hati-hati karena biasanya mereka itu tajam dengan tulisannya. Orang yang susah untuk berbicara…akan lebih mudah untuk menyampaikan sesuatu dengan tulisan, dan orang yang emosinya terkendali…akan menyalurkan emosi positif dan negatif ke dalam tulisan, bukannya memaki-maki ketika ada rasa marah, jengkel dan perasaan negatif lainnya dan bukannya bersorak…loncat-loncat kegirangan melainkan mengucapkan syukur lewat tulisan.
Seseorang bisa membangkitkan semangat teman yang lain lewat tulisan…ga percaya? Coba dech, ketika teman kita lagi sedih…butuh motivasi, dan lagi nda punya semangat…buatkan puisi atau sebuah cerpen yang sesuai dengan masalahnya, yakin pasti teman kita akan kembali bersemangat dan tidak sedih lagi?
Penulis pemula mungkin masih harus banyak belajar, dalam hal ini tentang ide penulisan yang bukan hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang-orang disekitarnya. Karena menurut teman-teman, seorang penulis pemula itu harusnya lebih kreatif karena akan banyak ide yang bermunculan…tapi masalahnya pada penulis pemula, walaupun banyak ide tapi realisasinya yang susah karena kurangnya pengalaman tentang menulis.
Aku adalah penulis pemula
Kata teman, aku sok puitis…
Aku adalah penulis pemula
Yang menulis ketika hatinya teriris…
Aku adalah penulis pemula
Yang baru belajar tentang menulis…
Aku adalah penulis pemula
Yang mungkin punya kesalahan dalam tiap baris…
Aku adalah penulis pemula
Yang berusaha untuk bersikap realistis…
Mungkin itu saja yang dapat saya tuliskan…
Semoga bermanfaat…Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar